Langsung ke konten utama

Psikologi Pendidikan


I.  PENDAHULUAN
Pada awalnya, sebelum adanya psikologi atau sebelum psikologi memisahkan diri dari filsafat, pendidikan dipikir oleh para ahli filsafat. Masing-masing Ahli filsafat mempunyai pendapat yang berbeda tentang pendidikan, sesuai dengan hasil-hasil pemikirannya. Pada dasarnya dapat dibedakan adanya tiga aliran besar dalam filsafat,yaitu filsafat idealism, filsafat realism, dan filsafat gabungan antara idealism dan realism. Dari tiga aliran besar fisafat tersebut muncullah beberpa aliran dalam pendidikan. ada beberpa aliran besar dalam pendidikan itu, antara lain : Empirisme, Nativisme, Naturalisme, Konvergensi, Progresivisme, Perenialisme, Esensialisme, Konstruktivisme dan Strukturalisme. Pada gilirannya aliran-aliran dalam pendidikan itu juga akan menimbulkan teori-teori dalam pendidikan, khususnya teori tentang belajar.
Pendidikan yang berfungsi membantu pertumbuhan dan perkembangan manusia menuju ke arah yang lebih baik, tidak dapat dilakukan tanpa mengetahui hakekat manusia. Untuk mengetahui hakekat manusia menurut pandangan Islam dapat dijelaskan dengan membahas konsep fitrah. Masing-masing dari aliran-aliran pendidikan dan teori belajar serta konsep fitrah  tersebut akan diuraikan pada bahasan berikut.

II. PEMBAHASAN
A.    Aliran Aliran Pendidikan
1.      Aliran Nativisme
Nativisme ( nativism ) adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788–1860) seorang filosof Jerman. Aliran filsafat Nativisme konon dijuluki  sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. karena para ahli penganut aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan seperti ini disebut “Pesimistis Pedagogis”.[1]
Kaum  nativis ini berpendapat bahwa nasib anak itu sebagian besar berpusat pada pembawaannya, sementara pengaruh lingkungan hanya sedikit saja. Baik buruknya perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada pembawaannya (Moh. Kasiram 1983:27).[2] Sebagai contoh, jika sepasang orang tua ahli musik, maka anak-anak yang mereka lahirkan akan menjadi pemusik pula. Harimau pun hanya akan melahirkan harimau, tak akan pernah melahirkan domba. Jadi, pembawaan dan bakat orang tua selalu berpengaruh mutlak terhadap perkembangan kehidupan anak-anaknya. Aliran nativisme hingga kini masih cukup berpengaruh di kalangan beberapa orang ahli, tetapi sudah tak semutlak dulu lagi.[3]
Kebenaran dari aliran pendidikan nativisme antara lain dapat dibuktikan bahwa anak yang berbakat lebih mudah di didik, diajar, dan dikembangkan dari pada anak yang tidak atau kurang berbakat. Mengajar anak-anak cerdas lebih mudah dan lebih berhasil di banding mengajar anak-anak yang kurang atau tidak cerdas, karena anak yang cerdas memiliki bakat sesuai dengan yang diajarkan, sedang yang tidak/kurang cerdas, tidak/kurang berbakat dalam bidang yang diajarkan. Sebaliknya, anak yang berbakat, sekalipun tidak di didik atau diajar tetap akan menunjukkan kemampuan tentang bakatnya tersebut.[4]

2.      Aliran Empirisme
Aliran Empiris dalam pendidikan dipelopori oleh ahli filsafat dari Inggris, John Locke (1632-1704). Ia seorang realis, yang percaya bahwa pendidikan terjadi melalui pengalaman (empiri) yang nyata (real).teorinya yang terkenal sebagai teori Tabulae rasae (Tabula Rasa) yang berarti “meja lilin”. Maknanya, bahwa ketika lahir manusia itu masih kosong, putih bersih, seperti meja lilin. Akan menjadi apa anak manusia itu nantinya tergantung pada apa yang ia alami (empirinya), atau apa yang “dituliskan” di atas meja lilin yang masih kosong, putih bersih tersebut, atau tergantung siapa yang member pengalaman (yang menulisi).[5] Kaum empiris ini berpendirian bahwa perkembangan anak itu sepenuhnya tergantung pada factor lingkungan, sedang factor bakat tidak ada pengaruhnya (Moh. Kasiram, 1983: 28).[6]
Dasar pemikiran yang digunakan aliran ini adalah bahwa pada anak itu dilahirkan jiwanya masih dalam keadaan suci bersih seperti kertas putih yang belum ditulisi, sehingga dapat ditulisisi menurut kehendak penulisnya. Dalam ilmu pendidikan, pendapat aliran empiris ini dikenal dengan nama optimism pedagogis.[7]
Faktor orang tua atau keluarga terutama sifat dan keadaan mereka sangat menentukan arah perkembangan masa depan para siswa yang mereka lahirkan. Sifat orang tua (parental trail) yang menyusun maksud ialah gaya khas dalam bersikap, memandang, memikirkan, dan memperlakukan anak. Contoh : kelahiran bayi yang tidak dikehendaki (misalnya akibat pergaulan bebas) akan menimbulkan sikap dan perlakuan orang tua yang menolak (parental rejection). Sebaliknya, sikap orang tua yang terlalu melindungi anak juga dapat menggangguperkembangan anak. Perilaku memanjakan anak secara berlebihan ini, menurut hasil penelitian Chazen,et al (1983) ternyata berhubungan erat dengan penyimpangan perilaku dan ketidak mampuan sosial anak pada kemudian hari.[8]
Kebenran dari pandangan aliran empirisme dalam pendidikan dibuktikan dengan dua anak kembar yang di didik dalam lingkungan yang berbeda, oleh pendidik yang berbeda. Diasumsikan kedua anak kembar itu memiliki potensi, bakat pembawaan yang sama, walaupun mungkin tidak identik (sama persis). Dapat dipastikan bahwa kedua anak kembar itu setelah dewasa akan memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan pengalaman masing-masing. Dengan kata lain, perbedaan itu menunjukkan fungsi dari pendidikan atau pengalaman yang berbeda. Jadi pendidikan dan pengalaman turut menentukan dalam pembentukan anak.[9]

3.      Aliran Konvergensi
Aliran Konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran empirisisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai factor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama Konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan psikolog Jerman. Para penganut aliran konvergensi berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama besar dalam menentukan masa depan seseorang. Jadi, seorang siswa  yang lahir di keluarga santri atau kiai, umpamanya, kelak ia akan menjadi ahli agama apabila ia di didik di lingkungan pendidikan keagamaan.[10]
Pendidikan harus memperhatikan bakat anak dan menumbuh kembangkannya melalui pemberian pengalaman (ajaran, pendidikan) yang sesuai. Sebagaimana telah disebut, anak akan belajar lebih mudah, lebih senang, lebih tertarik bila diajar sesuai bakatnya. Untuk anak yang kurang berbakat memerlukan pendampingan khusus agar dapat berhasil, walaupun tidak secara optimal, perlu adanya pendidikan untuk anak-anak berbakat secara khusus, sementara mereka yang kurang berbakat dikelola secara tersendiri.[11]


4.      Aliran Behaviorisme
Behaviourisme menganalisis manusia hanya dari sisi perilakunya yang tampak. Sebab, hanya perilaku yang tampak yang dapat diukur, dilukiskan, dan dijelaskan. Menurut behaviorisme, psikologi adalah sains, sedangkan sains hanya berhubungan dengan apa saja yang dapat diamati dengan kasat mata. Sandaran sandaran yang tidak bukan objek studi dari psikologi dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Inti dari aliran ini adalah asumsi bahwa jiwa bukan materi sehingga tidak dapat di teliti secara langsung.
Teori yang paling menonjol dalam aliran behaviorisme mengenai manusia adalah teori belajar. Menurutnya, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar, kecuali instinknya. Aliran ini hanya menganalisis bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh lingkungannya. Dari aliran ini, muncul konsep manusia sebagai makhluk mesin.
Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang berinduk pada empirisme. Empirisme menyatakan bahwa pada saat lahir, manusia tidak mempunyai warna mental. Sebab, warna mental yang dimiliki manusia dalam hidupnya merupakan hasil pengalaman. Manusia yang mengalami pengalaman berulang-ulang akan memiliki pengetahuan. Dalam aliran behaviorisme, pengalaman berulang-ulang disebut juga dengan pelaziman (conditioning). Pelazimanlah yang mempengaruhi manusia dan makhluk lainnya dalam berperilaku.
Teori-teori yag dikembangkan dalam aliran behaviorisme :
1.        Connectionism thorndike
a.         Law of effect, jika respon menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan stimulus-respons akan semakin kuat.
b.        Law of readiness, bahwa kesiapan mengacu pada asumsi.
c.         Law of exercise, stimulus dan respons akan bertambah erat jika sering dilatih.

2.         Classical conditioning ivan pavlov
a.         Law of respondent conditioning, hukum pembiasaan yang dituntut.
b.        ondens extinction, hukum pemusnahan yang dituntut.
3.         Operant conditioning B. F. Skinner
a.         Law of operant conditining, jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b.        Law of operant extinction, jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
4.         Social learning Albert Bandura
Perilaku individu diakibatkan oleh reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dan skema.[12]
B.     Pandangan Islam Terhadap Fitrah dalam Pendidikan
Manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna, berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya, sejak lahir manusia telah dibekali oleh Allah SWT dengan berbagai potensi, baik potensi jasmani, rohani dan lainnya, disamping itu Allah juga membekali manusia dengan kemampuan berpikir supaya dapat mengembangkan segala potensi yang telah di anugerahkan oleh Allah dalam kehidupannya. Suatu hal yang harus diketahui untuk mengetahui esensi dan eksistensi kehidupan manusia adalah fitrah. Fitrah mempunyai peran tersendiri memiliki kesan yang sangat vital untuk dijadikan dasar mengenal manusia, karena salah satu tatanan nilai yang ada pada diri manusia, bersifat orisinal, alamiah, dan hadir bersama hadirnya jasmaniah dan rohaniah diri manusia itu sendiri.
Pengenalan terhadap fitrah manusia diawali dengan mengetahui konsep kelahiran manusia dari unsur lahiriah maupun unsur batiniah. Unsur batiniah yang memiliki perangkat kemampuan dasar inilah yang disebut fitrah,yang dalam bahasa psikologi disebut personalitas atau disposisi, atau dalam psikologi behaviorisme disebut propotence reflexes, yaitu kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang.[13] Dasar konseptualisasinya mengacu pada firman Allah SWT maupun sabda Nabi SAW.
Allah dalam salah satu firman-Nya menyatakan :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّه                             ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. Ar Rum: 30 )

Sementara dalam salah satu hadits nabi disebutkan : “setiap anak dilahirkan dalam firtrahnya ( potensi untuk beriman-bertauhid kepada Allah dan kepada yang baik). Kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Makna yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas ialah bahwa setiap manusia pada dasarnya baik, memiliki fitrah dan jiwanya sejak lahir tidak kosong seperti kertas putih, tetapi berisi kesucian dan sifat-sifat dasar yang baik. Pandangan ini sama sekali berbeda dengan konsep perkembangan manusia menurut aliran-aliran pendidikan di atas. Fitrah yang dibawa anak sejak lahir bersifat potensial sehingga memerlukan upaya-upaya manusia itu sendiri untuk mengembangtumbuhkannya menjadi faktual dan aktual. Untuk melakukan upaya tersebut, islam memberikan prinsip-prinsip dasarnya berupa nilai-nilai islami sehingga pertumbuhan potensi manusia terbimbing dan terarah. Dalam proses inilah faktor ajar sangat besar peranannya bahkan menentukan bentuk dan corak kepribadian seseorang.[14]



DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin, 2010, Psikologi Pendidikan Refleksi Teoritis terhadap fenomena, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.
Hasan, Chalidjah, 1994,  Dimensi-Dimensi Psikologi Islam, Surabaya : al Ikhlas.
Mahmud, 2011 Psikologi pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.

Roqib, Moh. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta : LkiS Yogyakarta.
Soegeng Ysh, A.Y, 2013, Filsafat Pendidikan Suatu Pengembangan, Semarang : IKIP PGRI Semarang Press
Syah, Muhibbin, 2006, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
.







[1] Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, ), hlm 43-44
[2]Drs. Baharuddin, M.Pdi, Psikologi Pendidikan RefleksiTeoritisterhadap fenomena, (Jogjakarta :,Ar-Ruzz Media, 2010) , hlm 60
[3]  Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,( Bandung : PT Remaja Rosdakarya), hlm. 44
[4]  A.Y. Soegeng Ysh, Filsafat Pendidikan Suatu Pengembangan,(Semaran : IKIP PGRI Semarang Press, 2013), hlm. 90
[5]  A.Y. Soegeng Ysh, Filsafat Pendidikan Suatu Pengembangan,(Semarang :IKIP PGRI Semarang Press, 2013), hlm. 87
[6] Drs. Baharuddin, M.Pdi, Psikologi Pendidikan RefleksiTeoritisterhadap fenomena, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2010) , hlm 60
[7]  Drs. Baharuddin, M.Pdi, Psikologi Pendidikan RefleksiTeoritisterhadap fenomena, (Jogjakarta :Ar-Ruzz Media, 2010) , hlm 61
[8]  Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,( Bandung : PT Remaja Rosdakarya), hlm. 45
[9] A.Y. Soegeng Ysh, Filsafat Pendidikan Suatu Pengembangan,(Semarang : IKIP PGRI Semarang Press, 2013), hlm. 87-88
[10] Muhibbin Syah, M.Ed, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,( Bandung :PT Remaja Rosdakarya), hlm. 46
[11]  A.Y. Soegeng Ysh, Filsafat Pendidikan Suatu Pengembangan,(Semarang :IKIP PGRI Semarang Press, 2013), hlm. 94

[12] Dr. Mahmud, M.Si, psikologi pendidikan (Bandung: pustaka Setia, 2011) hlm. 28-35

[13] Chalidjah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikologi Islam, (Surabaya : al Ikhlas, 1994) hal 35.
[14] Moh Roqib, Ilmu Pendidikan Islam , ( Jogjakarta : LkiS yogyakarta, 2009),hlm. 62

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIMBINGAN KONSELING DI LINGKUNGAN KELUARGA

PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DILINGKUNGAN KELUARGA MAKALAH Di susun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Bimbingan Dan Konseling Dosen Pengampu :   Dr. Widodo Supriyono, M.Ag     Disusun Oleh :                                                               Rokhman Tafuzj   (1803038005)   PROGRAM S2 MANAGEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2019   I.                    PENDAHULUAN            Sejalan dengan dinamika kebutuhan kehidupan, kebutuhan akan bimbingan d...

Manusia Makhluk Mulia

I.                    PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan dibandingkan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia dilengkapi akal untuk berfikir yang membedakannya dengan binatang. Mengenai proses kejadian manusia, dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hijr (15) : 28-29) diterangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dengan bentuk yang sebaik-baiknya kemudian ditiupkan ruh kepadanya hingga menjadi hidup. Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini. Di lain pihak banyak ahli agama yang menentang adanya proses evolusi manusia tersebut. khususnya agama islam yang meyakini bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam a.s, disusul Siti Hawa dan kemudian keturunan-keturunannya hingga me...

Resensi Buku

RESENSI BUKU JUDUL BUKU         : Guru Besar Bicara                                   “MENGEMBANGGKAN KEILMUAN PENDIDIKAN ISLAM” PENULIS                 : Prof. Drs. H. Ahmad Ludjito, dkk. EDITOR                   : Muntholi'ah; Abdul Rohman, M. Rikza Chamami PENERBIT               :Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan                                    RaSAIL Media Group CETAKAN            ...