Langsung ke konten utama

BIMBINGAN KONSELING DI LINGKUNGAN KELUARGA

PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DILINGKUNGAN KELUARGA

MAKALAH

Di susun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Bimbingan Dan Konseling

Dosen Pengampu :  Dr. Widodo Supriyono, M.Ag

 

 

Disusun Oleh :

                                                          Rokhman Tafuzj  (1803038005)

 

PROGRAM S2 MANAGEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2019

 

I.                   PENDAHULUAN

           Sejalan dengan dinamika kebutuhan kehidupan, kebutuhan akan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada lingkungan persekolahan,saat ini sedang dikembangkan pula pelayanan bimbingan dan konseling dalam setting yang lebih luas,, seperti dalam pra nikah, pernikahan, keluarga, keagamaan, lingkungan pekerjaan, lanjut usia, dan masyarakat luas lainnya, yang kesemuanya itu membawa konsekuensi tersendiri untuk kepentingan tersebut. bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan masyarakat karena populasi yang beragam dan sejumlah tipe serta ciri problem manusia yang semakin meluas.

II.                RUMUSAN MASALAH

1.      Apa Pengertian Bimbingan Konseling dilingkungan keluarga ?

2.      Apa sajakah Tujuan bimbingan dan konseling di lingkungan keluarga ?

3.      Apa Sajakah Fungsi dan Manfaat Bimbingan dan Konseling dilingkungan Keluarga ?

4.      Bagaimana Contoh Kasus Bimbingan Konseling dilingkungan keluarga ?

III.             PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bimbingan Konseling Keluarga

Istilah “bimbingan” merupakan terjemahan dari istilah “guidance” dalam bahasa Inggris. Dalam kamus bahasa inggris, kata guidance dikaitkan dengan kata asalnya “guide” yang diartikan sebagai:

1. Showing the way artinya menunjukkan jalan

2. Leading artinya memimpin

3. Conducting artinya menuntun

4. Giving instruction artinya memberi petunjuk

5. Regulating artinya mengatur

6. Governing artinya mengarahkan

7. Giving advice artinya memberi nasihat [1]

Istilah “guidance” juga diterjemahkan dengan arti bantuan atau tuntunan. Ada juga yang menerjemahkan kata “guidance” dengan arti pertolongan. Berdasarkan arti ini, secara etimologis, bimbingan berarti bantuan atau tuntunan tetapi tidak semua bantuan atau tuntunan diberikan seseorang kepada orang lain berarti bimbingan dalam arti bimbingan dan konseling.

Istilah “konseling” merupakan terjemahan dari istilah aslinya yakni “counseling” dalam bahasa inggris. Dalam kamus bahasa inggris, kata “counseling” dikaitkan dengan kata “counsel” yang berarti nasehat (to obtaincounsel), anjuran (to give counsel), pembicaraan (to take counsel), dengan demikian kata konseling diartikan sebagai pemberian nasihat, atau pemberian.

Secara etimologis istilah Konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘’Consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”.Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari kata “Sellan” yang berarti “menyerahkan” atau menyampaikan.[2]

Konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman-pengalaman difokuskan pada masalah-masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan dalam hal ini adalah konseli, dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam memecahkan masalah itu.[3]

Kemudian pengertian dari Bimbingan Konseling Keluarga sendiri sering dinamakan Family counseling.

Family counseling. atau konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui system keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.[4]

Konseling Keluarga adalah usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui system kehidupan keluarga, dan mengusahakan agar terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri individu yang akan memberi dampak positif pula terhadap anggota keluarga lainnya.

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat diambil kesilpulan bahwa bimbingan konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada keluarga yang bermasalah supaya keluarga kembali harmonis, keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.

B.     Tujuan Bimbingan Konseling Keluarga

Tujuan konseling keluarga menurut pendapat para ahli berbeda satu sama lain. Hal ini tentu saja karena tujuan disesuaikan dengan konsep pendekatan yang mereka gunakan. Akan tetapi tujuan konseling keluarga secara umum menurut Ehan adalah menciptakan keluarga sebagai satu kesatuan yang dapat berfungsi lebih baik, sehingga anggota keluarga dapat menjalankan perannya masing-masing serta saling mendukung dan saling mengisi satu sama lain.

Secara garis besar tujuan konseling keluarga dapat dibagi menjadi dua yaitu, tujuan umum dan tujuan khusus antara lain sebagai berikut:

Tujuan umum Konseling Keluarga menurut pendapat Glick dan Kessler (dikutip dari Latipun 2001) yaitu:

1. Menfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antar anggota keluarga

2. Mengubah gangguan dan ketidakfleksibelan peran dan kondisi

3. Memberikan pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditunjukan kepada anggota keluarga. [5]

Sedangkan tujuan umum Konseling Keluarga menurut Sofyan Willis antara lain:

1. Membantu anggota-anggota keluarga belajar dan menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga adalah kait-mengait di antara anggota keluarga

2. Untuk membantu anggota keluarga agar menyadari tentang fakta jika satu anggota keluarga bermasalah, maka akan mempengaruhi kepada persepsi, ekspetasi, dan interaksi anggota-anggota lain

3. Agar tercapai keseimbangan yang akan membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap anggota

4. Untuk mengembangkan penghargaan penuh sebagai pengaruh dari hubungan parental.

 

Selanjutnya Tujuan Khusus Konseling Keluarga Menurut Sofyan Willis:

1. Untuk meningkatkan toleransi dan dorongan anggota-anggota keluarga terhadap cara-cara yang istimewa (idiocyncratic ways) atau keunggulan- keunggulan anggota lain.

2. Mengembangkan toleransi terhadap anggota-anggota keluarga yang mengalami frustasi atau kecewa, konflik, dan rasa sedih yang terjadi karena factor system keluarga atau di luar system keluarga

3. Mengembangkan motif dan potensi-potensi, setiap anggota keluarga dengan cara mendorong (mensupport), memberi semangat, dan mengingatatkan anggota tersebut

4. Mengembangkan keberhasilan persepsi diri orang tua secara realistik dan sesuai dengan anggota-anggota lain.[6]

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan konseling keluarga ialah agar konsili atau anggota keluarga yang memiliki problem dalam rumah tangga bisa mengatasi masalah dan bisa menyesuaikan diri dengan baik dan bisa mengambil keputusan secara bijak.

C.    Fungsi dan Manfaat Bimbingan Konseling Keluarga

Dalam Keluarga adapun fungsi dan manfaat bimbingan konseling dalam keluarga adalah sebagai berikut: 

a. Fungsi pemahaman Yaitu fungsi bimbingan yang membantu konsili agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungan. 

b. Fungsi preventif Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan  kepada konsisli tentang cara menghindarkan diri dari perbutan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. 

c. Fungsi perkembangan Yaitu konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konsili. 

d. Fungsi perbaikan Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konsili yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. 

e. Fungsi penyaluran Dalam melaksanakan fungsi ini, perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga. 

f. Fungsi penyesuaian yaitu bimbingan dalam membantu konsili agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. 

Sedangkan manfaat pelaksanaan bimbingan konseling dalam keluarga adalah sebagai berikut: 

a. Menurunkan bahkan mengilangkan stress dalam diri anggota keluarga. 

b. Membuat diri lebih baik, tenang, nyaman, dan bahagia 

c. Lebih memahami diri sendiri dan orang lain khususnya anggota keluarga yang lain. 

d. Merasa kepuasan dalam hidup. 

e. Mendorong perkembangan sosial. 

f. Membangkitkan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, berkarakter, dan percaya diri. 

g. Anggota keluarga lebih merasa dirinya dipedulikan dan diperhatikan serta lebih dihargai perannya dalam keluarga. 

h. Lebih menghargai makna dan hakikat kehidupan dan menerima semua kenyataan yang terjadi dalam kehidupannya. 

i. Mengurangi bahkan menghilangkan/ konplik atau tekanan batin yang mengejolak dalam diri individu dan dalam keluarga tersebut 

j. Meningkatkan hubungan yang lebih efektif dengan anggota keluarga yang lain bahkan dengan orang laindiluar keluarganya.

D.    Pendekatan Bimbingan Konseling Keluarga

Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut, pendekatan konseling keluarga menurut Glading diantaranya sebagai berikut: 

Teori Emotif Rasional (rational emotive theory). Konsep dasar dari teori ini adalah bahwa manusia secara alamiah dilahirkan dengan potensi berpikir rasional. Teori ini menekan kan pada pasangan sebagai individu yang seringkali dilanda pada perilaku spesifik yang terjadi dalam hubungannya dengan pasangan, yakni perilaku yang didasarkan pada pikiran rasional dan pikiran irasional.  Berpikir irasional adalah perasaan bahwa dirinya harus dicintai dan diterima oleh pasangannya, pasangan hidupnya sangat tidak menyenangkan, buruk dan tidak baik. Tujuan utama dalam teori ini adalah menolong konseli untuk lebih berpikir rasional, membantu pasangan suami istri untuk mengubah setiap kebiasaan yang dapat merusak pikiran dan perilakunya, memotivasi mereka agar lebih toleran terhadap dirinya  dan pasangannya, serta dapat membuat tujuan hidup dalam pernikahannya. Terdapat dua teknik yang digunakan dalam teori emotif rasional, yakni metode kognitif dan metode emosi. Dalam metode kognitif dan metode emosi terdiri atas;

1. Disputing irational beliefs (perselisihan keyakinan yang irasional). Metode ini digunakan oleh konselor agar dapat memahami perselisihan tersebut dan mengarahkan pasangan untuk dapat memanfaatkannya sebagai tantangan pada kehidupan mereka. 

2. Cognitive homework (pekerja rumah), dimana konselor memberikan pekerjaan rumah dan menerima konseli untuk membuat susunan masalah yang terjadi pada pasangan, mencari keyakinan yang absolut dari keduanya, selanjutnya membedakan keyakinan tersebut. Melalui teknik ini diharapkan konseli dapat meningkatkan dirinya agar dapat belajar untuk mengatasi kecemasan dan pikiran-pikiran yang irasional, baik terhadap dirinya maupun  terhadap pasangannya.

3. Changing one’s language (perubahan pada bahasa). Bahasa yang digunakan oleh konseli menunjukan pola pikirnya, sehingga penggunaan bahasa konseli perlu untuk diubah agar mereka dapat belajar dari perubahan kata yang digunakan.[7]

Sedangkan pendekatan dan teknik konseling keluarga yang Islam ajarkan adalah jika ada perselisihan dalam sebuah keluarga agar menunjuk atau mengangkat juru penengah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

Artinya: 35. dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam[293] dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.[293] Hakam ialah juru pendamai. (QS. An-Nisa’ayat 35)

IV.             KESIMPULAN

Bimbingan konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada keluarga yang bermasalah supaya keluarga kembali harmonis, keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.

Tujuan konseling keluarga menurut pendapat para ahli berbeda satu sama lain. Hal ini tentu saja karena tujuan disesuaikan dengan konsep pendekatan yang mereka gunakan. Akan tetapi tujuan konseling keluarga secara umum menurut Ehan adalah menciptakan keluarga sebagai satu kesatuan yang dapat berfungsi lebih baik, sehingga anggota keluarga dapat menjalankan perannya masing-masing serta saling mendukung dan saling mengisi satu sama lain.

Dalam Keluarga adapun fungsi dan manfaat bimbingan konseling dalam keluarga adalah sebagai berikut:  Fungsi pemahaman, Fungsi preventif, Fungsi perkembangan ,Fungsi perbaikan, Fungsi penyaluran, Fungsi penyesuaian.

 

Pendekatan dalam Bimbingan Konseling Keluarga relative tergantung permasalahan yang dihadapi beberapa pendekatan seperti teori rasional emotif, behavior Dn Lin-Lin bisa saja digunakan. Sedangkan pendekatan dan teknik konseling keluarga yang Islam ajarkan adalah jika ada perselisihan dalam sebuah keluarga agar menunjuk atau mengangkat juru penengah, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan al-hadits.

 

 

V.                PENUTUP

Demikian makalah yang dapat penulis paparkan semoga dapat mendatangkan manfaat bagi pembaca maupun penulis, kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan demi perbaikan di makalah-makalah selanjutnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

        Shahudi Sirodj, Pengantar Bimbingan dan Konseling (Surabaya, PT. Revka Petra Media: 2012),hlm. 4-5.
        Faezah Noer Laela, Bimbingan dan Konseling Islam (Surabaya, Arkola :2012), hlm.115.
        Faezah Noer Laela, Bimbingan dan Konseling Islam (Surabaya, Arkola :2012), hlm.117.
        Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family Counseling), (Bandung, ALFABETA: 2008), hlm. 83.
        Namora Lumongga Lubis, Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik (Jakarta, Kencana: 2013), hlm, 237.
        Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family Counseling), (Bandung, ALFABETA: 2008), hlm, 89.
        Pendekatan metode dan teknik bimbingan konseling keluarga” (online), tersedia di: http://duniakonselingandpsikologi.blogspot.com/2017/02/pendekatan-metode-dan-teknik- bimbingan.html?m=1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia Makhluk Mulia

I.                    PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan dibandingkan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia dilengkapi akal untuk berfikir yang membedakannya dengan binatang. Mengenai proses kejadian manusia, dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hijr (15) : 28-29) diterangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dengan bentuk yang sebaik-baiknya kemudian ditiupkan ruh kepadanya hingga menjadi hidup. Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang ini. Di lain pihak banyak ahli agama yang menentang adanya proses evolusi manusia tersebut. khususnya agama islam yang meyakini bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam a.s, disusul Siti Hawa dan kemudian keturunan-keturunannya hingga me...

Resensi Buku

RESENSI BUKU JUDUL BUKU         : Guru Besar Bicara                                   “MENGEMBANGGKAN KEILMUAN PENDIDIKAN ISLAM” PENULIS                 : Prof. Drs. H. Ahmad Ludjito, dkk. EDITOR                   : Muntholi'ah; Abdul Rohman, M. Rikza Chamami PENERBIT               :Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan                                    RaSAIL Media Group CETAKAN            ...